SEKILAS INFO
: - Sabtu, 28-11-2020
  • 5 bulan yang lalu / www.smpn1sarang.sch.id
  • 5 bulan yang lalu / Selamat datang di website resmi SMP Negeri 1 Sarang

 

 

Oleh : Luluk Lujianah, S. Pd

Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Sarang

 

 

Berbahasa santun adalah berkata-kata dengan menggunakan ragam bahasa dan sikap yang santun, halus, penuh penghor-matan dan beradab. Dari kemampuan ber-bahasa, dapat tercermin kepribadian ses-eorang. Melalui bahasa pula, suatu bangsa akan dikenal oleh masyarakat dunia. Seperti Indonesia yang dikenal selama ini sebagai bangsa yang ramah, sopan, dan santun, karena kemampuan berbahasa dengan bu-daya khas timur.

 

Apabila berbicara dengan santun, kita dapat dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Salah satu cara untuk melihat karakter seseorang yaitu dengan melihat bagaimana mereka berbicara, dan dengan siapa mereka berbicara. Di era globalisasi seperti sekarang, sering ditemukan bu-ruknya model komunikasi berbahasa yang dilakukan anak- muda. Mereka banyak yang tidak membawa serta sopan-santun dalam berbahasa. Ini menjadikan kepri-hatinan bersama, termasuk para pendidik dan orang tua. Nilai kesantuanan sebagian peserta didik kita semakin minim, khusus-nya dalam berbahasa. Oleh karena itu, perlu ditekankan pembiasaan karakter dalam berkomunikasi.

 

Adapun  pembiasaan  karakter  dalam berkomunikasi adalah berbicara dengan sopan, berkata-kata dan bersikap yang san-tun. Pembiasaan karakter ini bisa dilakukan misalnya di lingkungan sekolah antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, berbi-cara dengan baik, santun dan saling meng-hormati.

 

Terlebih di era gawai saat ini, banyak siswa yang sulit mengontrol kebiasaan ber-bicara kurang baik, terutama dengan teman sekelas. Catatan penulis, masih ada peserta didik yang berbicara tidak sopan, dengan memanggil guru dengan namanya, tanpa ada embel-embel bapak atau ibu. Fenomena itu nyata terjadi dan sungguh ironi lantaran ada dalam lingkup dunia pendidikan. Pendidiak yang idealnya membentuk perilaku men-jadi tercoreng lantaran sikap-sikap peserta didik yang demikian. Saat jam istirahat, tak jarang peserta didik memanggil temannya dengan nama bapak atau ibunya. Tentu saja ini mengindikasikan ada yang salah dengan kebiasaan mereka dalam bergaul. Jika hal itu diketahui masyarakat, tentu akan me-micu pertanyaan, apakah peserta didik tidak diajarkan sopan santun? Bagaimana peserta didik memposisikan guru di era sekarang?

 

Saling menghargai, menghormati se-jatinya kental menjadi budaya Indonesia. Namun dalam beberapa tahun belakan-gan, budaya keramahan dan sopan santun itu seolah semakin luntur. Hal ini dapat dilihat dari generasi muda yang cenderung kehilangan etika terhadap guru, orang tua dan teman sebaya. Peserta didik tidak lagi menganggap guru sebagai panutan yang memberikan ilmu. Problem moral inilah yang sangat perlu disikapi bersama. Perlu penguatan pendidikan karakter di lingkun-gan sekolah. Pendidikan karakter bukan sekadar sebagai media mengembangkan ke-mampuan semata. Pendidikan karakter juga berfungsi membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat.

 

 

Berdasarkan kondisi tersebut, lebih baik jika orang tua ikut berperan dalam memben-tuk karakter anak. Orang tua tidak hanya pasrah pada sekolah saja. Dalam pemben-tukan karakter anak, terutama dari segi so-pan santun dalam berbicara, orang tua juga dituntut mengajarkan nilai-nilai tersebut. Mengajarkan anak tentang suatu hal tidak dapat dilakukan dalam satu hari, namun melalui proses panjang. Melalui pendidikan karakter di sekolah maupun lingkungan ke-luarga diharapkan anak atau peserta didik dapat bersikap baik terhadap guru, orang tua maupun teman sebaya.

 

Berbicara dengan sopan diperlukan agar orang lain menghargai. Apabila kita sopan, orang-orang akan menghormati kita. Seb-agaimana slogan “Anda hormat, kami se-gan”. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Pengumuman Terbaru

JADWAL RENCANA KEGIATAN PENGAMBILAN IJAZAH TAHUN AJARAN 2019/2020

PENGUMUMAN

Open chat
smp n 1 sarang